Beranda » optimalisasi strategi » Missing-Link Dalam Pembelajaran Sains

Missing-Link Dalam Pembelajaran Sains

Google Translate

Free counters!
Add to My AOL Add to Google Reader or Homepage Subscribe in Bloglines

My feed

Geneku's Blog

IP

My Delicious

Author

Blog ini didedikasikan bagi rekan guru MTs Kemenag Kab. Tegal.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Semua orang tentu setuju bahwa kehidupan moderen sekarang ini tergantung pada teknologi. Semua bangsa memacu dirinya untuk menguasai teknologi. Sedangkan untuk menguasainya dibutuhkan sains, tanpa menguasai sains terlebih dulu mustahil kita mengembangkan teknologi.

Ironisnya, dalam hal ini masyarakat kita menghadapi kontradiksi, di satu pihak ada keinginan kuat untuk menguasai teknologi karena menyangkut masa depan bangsa, tetapi di lain pihak ada keengganan yang luar biasa dalam mempelajari sains.

Sebetulnya kesulitan dalam pembelajaran sains tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Kesulitan ini terjadi di semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Berbagai macam metode pembelajaran sudah dirancang dan dituangkan dalam kurikulum yang diusahakan selalu up-todate, tetapi masih saja tampil lemah dan mandul. Adakah sesuatu yang salah?

Cara belajar manusia
Sudah merupakan kodrat makhluk hidup, termasuk manusia, untuk belajar dalam hidupnya. Ia harus belajar peka terhadap lingkungannya, mengenali berbagai kejadian, cerdik memanfaatkan gejala alam, demi kelangsungan hidupnya (survival) sendiri. Kelebihan manusia terhadap makhluk lain adalah kemampuannya belajar sekaligus memprediksikan apa yang terbolehjadi pada masa yang akan datang berdasarkan kondisi yang ada sekarang. Hanya manusia yang dapat membuat rencana, menyusun strategi untuk menyongsong hari depannya.

Kendati memiliki tingkatan yang lebih tinggi, cara belajar manusia tetap dipengaruhi oleh cara yang berbau naluriah : trial and error. Dari cara inilah keluar suatu produk yang disebut pengalaman. Kemudian dari pengalaman-pengalaman tersebut tersusunlah dugaan-dugaan yang disusul dengan usaha-usaha pembuktian, sehingga dihasilkan aturan, hukum, konsep dan paradigma ilmu pengetahuan. Sebuah analogi yang menggambarkan cara belajar manusia adalah pendaki gunung. Ia berjalan mulai dari bawah naik ke atas, semakin atas tempat yang dicapainya, semakin luas cakrawala penglihatannya. Menjadi tahu karena mengalami.

Jadi manusia berpikir dan belajar secara induktif. Dari berbagai pengalaman ia mampu melakukan analisa dan sintesa untuk kemudian menjadi ahli. Pada jaman dulu pengalaman-pengalaman ini harus dipelajari oleh beberapa generasi dalam suatu keluarga. Ilmu yang tercipta pun kemudian menjadi ilmu keluarga yang tidak boleh diketahui rahasianya oleh orang luar. Walaupun kerahasiaan ilmu sudah tidak ada lagi di jaman moderen ini, peranan pengalaman masih dominan dalam pembelajaran kita sehari-hari.

Cara belajar dalam keilmuan
Pada jaman sekarang sebagian besar ilmu sudah tersusun rapi, siap untuk disebarluaskan melalui media resmi pendidikan : sekolah. Para murid sudah “tidak perlu” lagi bersusah payah mencari pengalaman sendiri untuk mempelajari sesuatu. Sebagai “gantinya” di sekolah diberikan cerita dan pengulangan terhadap pengalaman orang lain : kuliah dan praktikum. Ibarat pendaki gunung, para murid harus siap diterjunkan langsung di puncak gunung untuk melihat cakrawala keilmuan, hanya sekali-sekali mereka diminta mengamati atau bahkan menelusuri sendiri jalan setapak yang sudah ditemukan orang lain.

Belajar dari pengalaman orang lain kualitasnya lebih rendah daripada pengalaman diri sendiri. Seperti orang yang “mendengar” cerita orang lain tentang rasa buah durian, tidak akan pernah lengkap deskripsi tentang rasa tersebut sebelum ia mengalaminya sendiri. Jadi cara belajar keilmuan di sekolah mudah sekali terjebak pada pemaksaan logika pengalaman. Semua yang diajarkan sudah berbau second-hand atau bahkan tangan ke sekian puluh. Bisa dibayangkan betapa hambar “rasa” ilmu tersebut jika para murid hanya disuruh menerima semua itu sebagai fakta begitu saja.

Permodelan dalam sains
Situasi kemudian diperburuk oleh keterbatasan manusia. Semua teori, hukum, yang disusun berdasarkan pengalaman empirik, selalu mengarah pada permodelan. Model yang dipakai selalu berbau ideal, karena manusia tidak sanggup mengurai secara rinci sebagaimana kejadian sesungguhnya. Terlalu banyak kendala (constraint), faktor, komponen, dan proses yang saling membelit (interwoven) dalam perwujudan fenomena sesungguhnya. Model-model itu kemudian sengaja dibuat dengan pengabaianpengabaian, pembatasan-pembatasan, terhadap berbagai kendala dan faktor agar tampilannya lebih sederhana untuk “dipahami”. Tetapi benarkah demikian?

Permodelan seperti ini yang jauh dari realita ternyata membuat proses pembelajaran menjadi rumit. Di sekolah para murid harus belajar permodelannya dulu yang kurang realistis, kemudian diminta “turun” mencari kecocokannya dengan kejadian sesungguhnya, dengan terlebih dulu berhadapan dengan “hantu-hantu” sparring-partner logika yang abstrak, yaitu matematika. Cara deduktif seperti ini bukan cara naluriah manusia dalam belajar, sehingga tidak heran jika kebanyakan siswa “berguguran” di tengah jalan dalam proses pembelajaran sains. Memang ada sebagian kecil dari mereka yang berhasil dan menjadi ahli di kemudian hari. Ya, mereka ini memang orang yang sejenis dengan para pendiri ilmu-ilmu itu sendiri, yakni para pemikir yang berbakat untuk melakukan lompatan-lompatan logika dalam belajar.

Lompatan logika, nah ini dia mata rantai yang hilang dalam pembelajaran sains. Adalah watak keilmuan moderen itu sendiri yang memaksakan lompatan logika ini. Jika mata rantai ini dipasang, maka sangat terbolehjadi kita kembali ke jaman sebelum Newton, bapak keilmuan moderen, dimana pengalaman pribadi menjadi komponen utama dengan tenggang waktu belajar yang berkepanjangan.

Sains, untuk siapa?
Selama belum diketemukannya metode yang mampu memasang mata rantai tersebut tanpa harus kembali ke masa pra-Newton, sains adalah barang “mewah” yang tetap berada di luar jangkauan orang awam. Coba sekarang kita amati, berapa orangkah di dunia ini yang benar-benar menguasai teknologi komputer luar-dalam? Ada sejutakah? Seratusribukah? Atau bahkan hanya beberapa ribu orang saja yang berada di lembah Silikon, di pusat-pusat rekayasa komputer macam Microsoft dan sebagainya?

Kenyataannya tidak semua orang “perlu” menjadi saintis. Inilah mata rantai kedua pembelajaran sains yang biasa luput dari perhatian orang. Pemasungan para murid, terutama dirasakan oleh mayoritas yang tak berbakat, dilakukan serentak dan sah oleh para pendidik, bahkan oleh para orang tuanya sendiri. Sebagai generasi muda mereka “semuanya” diharapkan dapat menguasai sains. Hal ini tercermin dari “penyempurnaan” kurikulum sekolah yang makin lama makin “hebat” tingkatan dan cakupan keilmuannya. Padahal dengan demikian rantai pembelajaran sains akan terputus karena otak siswa akan
meluap tak tahan dengan derasnya “barang asing” yang berjejal-jejal masuk ke dalamnya.

Penutup
Berbagai usaha telah dilakukan oleh para pendidik untuk menutup kesenjangan akibat missing-link di atas. Intinya adalah pembelajaran sains harus dibuat agar sesuai dengan cara belajar kodrati manusia. Metode yang diciptakan haruslah “mempercepat” proses pembelajaran itu, bukannya membuat lompatan-lompatan seperti yang sekarang terjadi. Lompatan yang fantastis malah menjadi bumerang, para siswa justru akan membenci sains karena kesulitan memahaminya. Nafsu besar tenaga kurang, itulah kira-kira gambaran pembelajaran sains kita dewasa ini.

%d blogger menyukai ini: