Beranda » Bahan Ajar » Sains dalam Catatan Roy Sembel

Sains dalam Catatan Roy Sembel

Google Translate

Free counters!
Add to My AOL Add to Google Reader or Homepage Subscribe in Bloglines

My feed

Geneku's Blog

IP

My Delicious

Author

Blog ini didedikasikan bagi rekan guru MTs Kemenag Kab. Tegal.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Roy Sembel adalah Co-founder Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Beliau menggaris bawahi beberapa hal berkaitan dengan pembelajaran Sains di Indonesia. Menurutnya ada beberapa faktor yang masih sangat perlu dibenahi untuk menghasilkan pembelajaran sains pada umumnya dan fisika pada khususnya.

Di mana salahnya ?
Pertama dan yang terpenting adalah faktor motivasi belajar sains. Harus diakui, sains masih dianggap sebagai ilmu sulit dan tidak membawa hasil memadai. Kesuksesan TOFI dan tim olimpiade sains lainnya memang telah mulai membantu menaikkan citra ilmu sains di masyarakat. Namun peningkatan yang telah terjadi masih jauh dari cukup karena baru menyentuh sebagian kecil dari masyarakat. Social marketing yang lebih terpadu melibatkan kerjasama antara pemerintah,media massa, dunia akademis dan dunia bisnis diperlukan agar citra ilmu sains meningkat. Peningkatan citra ini diharapkan meningkatkan motivasi pelajar dalam mempelajari ilmu sains secara lebih `greget’.
Sentra-sentra percontohan sains masih sangat terbatas di kota besar saja. Acara sains yang dikemas menarik baru ada di beberapa media cetak atau TV.

Citra sains juga terkait dengan lapangan kerja dan penghargaan yang tersedia bagi para pakar sains. Industri yang dikembangkan ternyata tidaklah dipertautkan kekayaan yang dimiliki Indonesia (natural resources dan biodiversity). Kesulitan yang dialami PT Dirgantara Indonesia semakin menurunkan citra insutri berbasis sains di Indonesia.

Kedua, faktor ketersediaan guru sains yang berkualitas. Dari hasil tes TOFI terhadap sekumpulan guru fisika, terlihat bahwa penguasaan mereka terhadap materi fisika yang harus mereka ajarkan masih sangat lemah. Banyak di antara guru-guru itu yang memperoleh skor lebih rendah dari 10%. Kalau gurunya saja masih parah, bagaimana dengan muridnya. Saat ini TOFI sudah mulai menjalankan program pelatihan guru fisika. Namun tentu dengan sumber daya terbatas, jangkauan dan dampaknya masih terbatas.

Ketiga, fasilitas pendidikan. Pembelajaran sains membutuhkan alat peraga dan laboratorium. Perlengkapan tersebut relatif mahal. Tidak banyak sekolah yang bisa menyediakannya secara memadai. Ini juga sedikit banyak tercermin dari kelemahan siswa TOFI yaitu skor ujian eksperimen. Selain itu, ketersediaan buku atau piranti lunak pembelajaran fisika dengan harga memadai sangat kurang di Indonesia. Kurangnya fasilitas penunjang proses pembelajaran menyebabkan pelaksanaan belajar mengajar terhambat. Kurikulum pun tidak bisa dikembangkan secara optimal. Akibatnya, pembelajaran sains yang seharus banyak menggunakan experiential learning malah menjadi setumpuk hafalan rumus yang membosankan. Motivasi belajar pun menurun. Untuk skala terbatas seperti TOFI, kekurangan itu bisa sedikit disiasati. Untuk skala besar se-Indonesia, kekurangan fasilitas itu menjadi tantangan yang sangat berat.

Apa yang harus dilakukan ?
Adanya tantangan berat itu jangan membuat kita menyerah. TOFI pun bisa sukses meski dimulai hanya dengan segelintir mahasiswa bermodal idealisme. Titik awal yang harus ada adalah idealisme dan komitmen dari para pemimpin negara untuk memajukan pembelajaran pada umumnya dan pembelajaran sains pada khususnya. Komitmen untuk mengalokasikan dana yang lebih besar merupakan indikasi awalnya. Sebagian dari
hambatan yang diuraikan sebelumnya dapat diatasi bila alokasi dana untuk pembelajaran diperbesar dan dialokasikan secara efisien. Seandainya saja dana sebesar dana pembelian Sukhoi dialokasikan untuk meningkatkan kualitas guru dan fasilitas pembelajaran serta mempergencar social marketing peningkatan citra sains, dampaknya bisa sangat besar dan berkelanjutan. Subsidi yang dicabut seharusnya
adalah subsidi bagi barang-barang konsumtif. Aktivitas yang diinginkan untuk dilakukan lebih banyak lagi oleh masyarakat karena membawa dampak positif jangka panjang, seperti pendidikan, wajib terus mendapat prioritas subsidi.

Dalam era otonomi daerah, terlihat ada beberapa daerah, seperti Riau, yang berkomitmen terhadap pembelajaran sains. Banyak program peningkatan pembelajaran sains yang mulai memperlihatkan hasil di daerah-daerah tersebut. Daerah-daerah tersebut bisa dijadikan percontohan bagi daerah lain.

Kompetisi adalah salah satu pemicu motivasi belajar. Olimpiade sains tingkat kabupaten perlu diprogramkan sehingga akan muncul TOFI-TOFI pada tingkat mikro dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Kompetisi inovasi dan bisnis seperti dipelopori oleh Yayasan Progressio (http://www.progressio.or.id) merupakan langkah inovatif untuk menjembatani sains dan bisnis. Penciptaan lapangan kerja dan
nilai tambah dengan memanfaatkan penemuan sains yang selama ini tidak terpakai akan menambah motivasi orang untuk lebih mempelajari sains. Kompetisi seperti itu pun perlu digalakkan dengan cakupan yang lebih luas dan juga pada level lebih mikro di tingkat daerah. Peningkatan motivasi, pemberian akses memadai, pembekalan (pelatihan
yang baik, guru berkualitas, dukungan prasarana yang prima) memang tidak bisa instan atau karbitan. The law of process berlaku di sini. Untuk itu diperlukan komitmen jangka panjang yang harus diikuti dengan langkah nyata agar dunia sains di Indonesia berkembang pesat. Tantangan ke depan memang berat. Memang diperlukan pengorbanan
kerjakeras, kerjacerdas, dan kerjasama untuk mencapai hasil yang didambakan. Mari berhenti berkeluhkesah dan mulai berkontribusi dalam kapasitas kita masing-masing. Dari pada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Selamat berjuang duta Bangsa Indonesia di Olimpiade Fisika Internasional dan olimpiade sains lainnya.

%d blogger menyukai ini: